Contoh Naskah Drama

Posted on

Contoh Naskah Drama – Halo sobat materibelajar.co.id kembali lagi bersama kami yang dimana kali ini kami akan memabahas tentang pelajaran Bahasa Indonesia yang bertemakan Contoh Naskah Drama untuk lebih jelasnya maka simaklah penjelasan dibawah ini.

contoh naskah drama singkat beserta prolog dan epilog

Jika kalian sudah paham tentangdunia sastra, pasti kalan sudah mengenal secara baik apakah itu drama. Drama dasarnya yakni lakon yang sudah diperankan oleh seorang aktor. Jika dirunut dari sejarahnya, drama yang sebagai salah satu dari kerjaan seni ini yang asalnya dari Yunani Kuno.

Kata drama sendiri pula diambil dari bahasa Yunani. Drama itu berasal dari dua kata Yunani yang apabila dipadankan kedalam Bahasa Indonesia, sama saja dengan “aksi” serta “perbuatan”. Sebagai sebuah karya seni, drama yang terbilang kompleks dikarenakan melibatkan banyak sekali unsur. Salah satu yang sangat penting yakni naskah drama.

Mereka yang sudah bergeliat didalam dunia drama pastinya sudah paham bagaimana kah pentingnya naskah drama itu. Naskah ini sudah mencakup cerita serta narasi dialog dari para pemain agar menghidupkan cerita yang sudah diusung. Keberhasilan dari drama dimulai dari pada penguasaan para aktor kepada naskah drama itu sendiri.

Jadi, mutlak harus diperlukan adanya sebuha naskah drama yang sangat baik supaya mudah dipahami oleh mereka yang ingin mendalaminya. Berikut ini kami sudah sajikan beberapa contoh dari naskah drama yang dapat kalian cermati supaya pemahaman soal naskah drama jauh lebih komprehensif.

1. Contoh Naskah Drama 5 Orang

Hari ini pagi begitu cerah. Mifta dan Danni, dua orang siswa dikelas VII yang sedang asyik membaca buku Biologi pada koridor sekolah. Pasalnya pada nanti siang akan terdapat ulangan harian pada mata pelajaran tersebut. Lalu datanglah Angga, sahabat mereka.

Angga: “Mif, Dan, rajin sekali kalian!”

Mifta: “Iya dong, kan tugas kita sebagai seorang pelajar kan memang mengharuskan belajar. Hehehe…”

Angga: “Iya juga ya. Eh ngomong-ngomong kalian sudah tahu belum, akan ada murid baru yang segera masuk kelas kita pada hari ini.”

Dani: “Oh yakah, siapakah namanya? Lelaki atau perempuan ngga?”

Angga: “Lelaki, tapi saya juga belum tahu siapakah namanya lalu seperti apakah rupanya.”

[Bel sekolah pun berbunyi]

Mifta: “Eh ayok masuk ke kelas!”

[Ketiganya pun memasuki ruang kelas. Ibu guru segera masuk bersama seseorang murid baru itu.]

Ibu Guru: “Selamat pagi, anak-anak sekalian. Hari ini kita akan kedatangan teman baru asalnya dari Aceh, dia akan menjadi kawan sekelas kalian. Silakan kamu perkenalkan diri, nak!”

Iwan

Iwan: “Selamat pagi, teman-teman semuanya. Nama saya Muhammad Iwan. Saya asalnya dari Aceh.”

Mifta [berbisik kepada Angga]: “Jauh sekali ya ngga, dari Aceh pindahnya ke Bandung!”

[Angga hanya mengangguk yang tandanya setuju]

Ibu Guru: “Iwan , kamu bisa duduk di belakangnya Dani ya [menunjuk pada sebuah meja kosong]. Untuk sementara waktu kamu bisa duduk sendiri dahulu dikarenakan jumlah siswa pada kelas ini ganjil.”

[Iwan pun segera duduk pada kursi yang sudah disediakan]

Ibu Guru: “Ya baiklah, sekarang marilah kita mulai pelajaran untuk hari ini. Buka buku kalian pada halaman 48….”

[Pelajaran pun dimulai]

Saatnya tiba jam istirahat. Iwan, yang saat itu belum mempunyai teman, diam saja dan duduk pada kursinya lalu sambil menunduk. Rupanya belum ada satu pun kawan sekelasnya yang mau mendekatinya. Semua siswa yang ada di kelas itu masih saja sungkan lalu hanya mau tersenyum saja kepadanya tanpa berani untuk mengajak ngobrol lebih lanjut.

Dani: “Psst, Mif, Ngga, coba lihat geh anak baru itu, sendirian aja ya!”

Mifta: “Ayo coba kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Iwan]

Angga: “Hei, Wan. Kenalkan, aku Angga, ini Dani dan Mifta [menunjuk kepada kedua temannya].”

[Ketiganya pun duduk pada sekeliling Iwan]

Iwan: “Halo, salam kenal.”

Dani: “Kamu kok tak jajan ke kantin?”

Iwan: “Aku… Aku ini membawa bekal makanan [menjawab pelan sekali, dan sambil tertunduk].”

Mifta: “Oh begitu, rajin sekali kamu ya, Wan!

[Keempat siswa ini pun mulai terlibat sebuah obrolan ringan sehingganya Iwan merasa sudah ditemani]

Saat bel jam pulang sekolah, Ibu Guru pun memanggil Angga dan juga Dani yang hendaknya pulang ke rumahnya masing-masing.

Ibu Guru: “Angga, Dani! Ke sini coba sebentar. Ibu ingin menanyakan sesuatu.”

[Angga dan Dani pun menghampiri Ibu Guru]

Dani: “Ada apa, Ibu?”

Ibu Guru: “Itu, bagaimana kah perilaku si Iwan di kelas? Apakah dia dapat membaur?”

Dani: “Dia si agak pendiam, Bu. Dan sukanya menunduk pada saat berbicara.”

Angga: “Tadi pada jam istirahat, kami berdua dan Mifta berusaha untuk mendekatinya. Kamipun mengobrol cukup lama, dia anak yang baik kok bu, hanya saja dia seperti sedikit kurang percaya diri lalu muram.”

Ibu Guru: “Hmm… begitu yak. Anak-anak, Iwan iyalah salah satu dari korban yang selamat dari tragedi tsunami Aceh dari beberapa bulan lalu. Kedua orang tuanya sudah tewas terhempas oleh ombak. Sekarang hanya tinggal dia dan adiknya perempuannya, Annisa. Sekarang Annisa yang masih duduk di bangku kelas 4 SD, di SD V dikota kita ini.”

Angga: “Ya Tuhan, sungguh berat sekali cobaan yang sudah menimpanya…”

Ibu Guru: “Iya. Untungnya saja, seseorang pamannya yang tinggal di kota Bandung sehingganya ia serta adiknya yang tinggal di sini. Mereka yang tergolong pada masyarakat prasejahtera, sehingganya Ridwan harus benar-benar berhemat. Pamannya pun berkata kepada Ibu tadi pagi, dia tak mampu untuk memberi uang jajan yang snagat cukup untuk Iwan sehingganya Ridwan harus membawa bekal nasi untuk setiap hari supaya tidak lapar saat berada di sekolah.”

Dani: “Oh pantas saja saat jam istirahat dia tak ke kantin.”

Ibu Guru: “Ya sudahlah, Ibu cuma ingin mau bilang begitu. Kalian coba berbaik-baiklah dengannya. Temani dia supaya dia tidak merasa kesepian serta terus berduka.”

[Angga dan Dani pamit lalu kemudian pulang]

Di rumahnya, Dani yang terus menerus saja memikirkan teman barunya, yakni Iwan. Akhirnya dia mendapatkan sebuah ide. Dikabarkannya Angga dan Mifta melalui sebuah SMS. Keesokan harinya saat jam istirahat….

Dani: “Eh, kalian sudah membawa apa yang sudah aku bilang kemarin, kan?”

Mifta: “Bawa dong. Ayo segera kita dekati saja Iwan.”

Angga: “Iwan, bolehkah kami bertiga untuk makan bersamamu?”

Iwan: [kikuk lalu kebingungan] “Eh, umm.. boleh saja..”

Dani, Angga, dan Mifta mengeluarkan sebuah bekal makanan mereka. Ketiganya pula membawa sebuah makanan camilan agar dimakan secara bersama-sama, tentu saja Iwan pula kebagian. Dengan cara makan bersama setiap hari, mereka bisa berharap dapat membuat Iwan lebih ceria. Sesudah makan…

Iwan: “Terima kasih ya, teman-teman. Kalian begitu baik kepadaku.”

Mifta: “Kamu ini bicara apa, sih wan? Kita kan semua teman, wajar saja apabila kita saling bisa bersikap baik.”

Semenjak dari itu Iwan menjadi semakin saja kuat karena dukungan teman-teman barunya. Siswa-siswa yang lain di kelas itu juga banyak yang sudah bergabung membawa sebuah bekal agar dimakan secara bersama-sama dijam istirahat. Suasana pun menjadi semakin menyenangkan.

2. Contoh Teks Drama Persahabatan

Amplop untuk Dela

Dela, Reza, Rifan dan Lia sedang serius sekali menyaksikan Satia yang lagi bertanding. Mereka memangnya tak satu SMA tapi akrab dikarenakan dulu satu SMP. Sehingganya terlihat jelas sangat kompak serta mereka saling mendukung antara sahabatnya seperti hari ini.

Tapi tak tau kenapa sepertinya ada yang sangat aneh dengan Dela yang hari ini, dia hanya saja diam serta tentu saja Lia pun menyadari itu.

Lia: Lu kenapa Del? Dari tadi hanya diam aja tidak ada semangatnya.

Reza: iya juga yak, biasanya kalau Satia lagi tanding Dela yang sangat heboh untuk teriak.

Rifwan: Lu sakit Del?

Dela: Tidak, gua ini baik-baik saja, sudahlah gua ke kamar mandi dulu lah.

Dela pun melangkah pergi.

Rifan: iya aneh, kalau enggak aneh ya enggak mungkin Dela pergi ke kamar mandi sendirian, dia juga kan penakut pastinya minta dianterin Lia.

Riza yang sedang asik sekali mengorek isi tas dari Dela yang memang tak dibawa Dela, sesudah menemukan hpnya Riza pun mendekat ke dua sahabatnya yang sedang mengalami kebingungan.

Rifan: jiwa maling dia sudah hebat banget.

Riza: ini namanya sebuah jiwa persahabatan.

Dela: yang di mana hobinya itu membobol hp orang mulu.

Riza: salah kalian lah, buat Pasword terlalu gampang sekali diingat.

Mereka yang membaca isi chat dihpnya Dela serta benar saja sudah ternyata Dela yang sedang terdapat masalah dikarenakan keluarganya sedang kesusahan jadinya Dela telah menunggak uang komite sekolah.

Rifan yang memberi tau Satia yang baru saja selesai tanding serta kebingungan setelah melihat sahabatnya itu bertingkah aneh. Sesudah selesai bercerita pada akhirnya mereka pun menemukan solusinya.

Pertandingannya pun selesai dan Satia pun sebagai pemenang, dia juga menerima sebuah hadiah yang sebesar 5 juta. Agar membuat masalah dari Dela terselesaikan dan Delanya curiga akhirnya pun Satia memberikan ke empat temannya itu amplop.

Satia: gue kan sudah menang, entah mengapa jiwa kaya raya gua ini menjerit mau mengobral amplop untuk kalian.

Reza: jiwa miskin gua berteriak histeris.

Satia: tapi hanya satu amplop yang berisi uang, sisanya itu kosong.

Mereka yang memang sudah bekerjasama serta menandai amplop yang isinya kosong sehingganya hanya ada sisa amplop yang berisi uang untuk Dela.

Dela: serius ini uang nya buat gua? Kalian tidak ada yang iri.

Lia: jelas lu yang hoki.

Seketika Dela pun menangis serta langsung dipeluk Lia. Sedangkan yang lainnya pun menyemangati Dela.

3. Contoh Naskah Drama Teater

Cinta Segitiga

Babak 1

Narator pun memberi instruksi pada pemeran Nira, Jim serta Bu Shinta agar masuk kedalam settingan yang sama. Disini mereka yang bertiga ada di suatu rumah besar serta megah milik dari Bu Shinta. Nira datang yang sebagai seorang pembantu baru yang ada di rumah Bu Shinta lalu menarik perhatian dari Jim.

Alur Cerita

Nira          : Permisi bu, selamat siang.
B. Shinta  : Siang, ada perlu apakah?
Nira          : Apakah benar ini rumahnya Bu Shinta?
B. Shinta  : Ya, betul. Kamu siapa ya?
Nira          : Perkenalkan saya ini Nira, pembantu kiriman makelar Pak Gusni.
B. Shinta  : Oh kirimannya pak Gusni. Oke, kamu silahkan masuk aja ke belakang. Taruh lah barang-barang bawaan kamu pada kamar didekat taman belakang. Sesudah itu kamu temui saya yang ada di ruang tamu.

Nira yang berjalan perlahan pada arah taman belakang. Tapi, dikarenakan rumahnya begitu besar maka dia pun tersesat sampai ke suatu ruangan kerja yang letaknya pula dekat dari taman belakang.

Jim         : Siapa kah kamu?
Nira        : Eh! ya! Anu.. Saya ini pembantu baru, Mas. Saya gak tahu kamar saya ini dimana.

Jim terpana begitu melihat Nira menoleh. Dia pun terpesona dari paras Nira yang sangat cantik lalu lugu.

Jim         : Pembantu? ya. Kamar kamu ya disana bukan disini.
Nira        : Iya, maaf ya, Mas. Saya permisi.
Jim         : Eh, nama kamu ini siapa?
Nira        : Nira, Mas…?
Jim         : Nama saya jim.
Nira       : Iya, Mas Jim. Salam kenal.

Nira pun tersipu-sipu malu saat Jim menatapnya. Kedua mata si Jim seperti tidak dapat lepas dari paras cantiknya Nira. Tiba-tiba saja Bu Shinta masuk ke dalam ruangan kerja itu.

Shinta : Nira! Ngapain kamu berada disini? Saya nunggu kamu di ruang tamu tidak datang-datang! Pantes aja, kamu sedang godain anak saya?
Nira : Nggak.. Nggak, Bu. Ini tidak seperti yang bu lihat. Saya…
B. Shinta : Sudah kamu diam! Sana segera pergi ke kamar kamu!

Nira yang berlalu dari ruangan tersebut , sementara itu Bu Shinta yang agaknya merasa curiga bahwa sanya putra tunggalnya itu terpesona dari kecantikannya Nira.

Shinta : Jim, kamu segera ganti baju, cepat! Sebentar lagi akan terdapat tamu.
Jim : Hah? Siapa, Mah? Aku sedang banyak kerjaan, nih.
B. Shinta : Halah.. Kerjaan apa hari Sabtu begini. Sudahlah kamu turuti saja kata-kata Mama. Lekas kamu segera ganti baju.
Jim         : Oke oke, Ma.

Babak 2

Tak lama kemudian datanglah dua orang perempuan yang bergaya modis yang datang ke Rumahnya.
B. Bena   : Permisi, Jeng Shinta.
B. Shinta : Eh, ya Jeng Bena! yuk silahkan masuk. Ini anaknya ya jeng?
B. Bena   : Iya, Jeng. Ini ni anak saya yang satu-satunya. Pop, kasih salam gih sama Tante Shinta.
Poppy      : Hai, Tante. Salam kenal juga. Saya Poppy.
B. Shinta : Hai, Poppy. Cantik banget ya anaknya si Jeng Bena ini.
B. Bena   : Hehe.. Kan mirip mommynya, Jeng. Oya, yang mana nih putranya si Jeng Shinta? Jadi kan yang rencana kita.
Poppy      : Ih, Mam! Apaan sih.
B. Shinta : Oh, Poppy dah tahu ya? Hmm.. Bentar ya saya mau panggilkan. JIM! Sini, nak!

Jim pun datang bersama Nira. Dikarenakan tadi mereka yang sedang berbincang-bincang yang ada di belakangnya tanpa sepengetahuan dari Bu Shinta.

Shinta : Jim, ini namanya Tante Bena lalu yang cantik itu namanya Poppy, anaknya. Cantik sekali kan, Jim?
Jim : Siang, Tante Bena. Eh, hay Poppy. Aku Jim.

Poppy langsung saja bangkit dari duduknya lalu terpana saat melihat ketampanan lalu kesantunan Jim. Dia langsung saja jatuh cinta dipandangan pertama dengan Jim.

Poppy       : Hai, Jim.
B. Shinta  : Nah, kalian telah saling kenal kan. Rencananya, Mama bersama Tante Bena ini akan menjodohkan kalian. Kalian juga sama-sama single, sama-sama saja lulusan universitas luar negeri, mankanya kami sudah merasa kalian sangat cocok agar menjadi pasangan suami istri.
Jim           : Hah? Mama ini bercanda? Perjodohan? mengapa Mama tak tanya dulu e aku ?
B. Shinta  : Jim! Jaga perilakunya. Sepertinya nanti kita juga perlu bicara! Dan kamu Nira! Sedang apakah kamu disini? Siapa yang menyuruh kamu menguping pembicaraan kami hah?
Poppy       : Tante, ini perempuan siapa?
B. Shinta  : Oh, dia ini pembantu baru yang ada di rumah ini. Tampaknya perjodohan dari anak kita ini segera dipercepat, Jeng. Sebelum dari anak saya terkena guna-guna pembantu baru ini.
B. Bena    : Wah, berani nyalimu mendekati seseorang pewaris perusahaan yang terbesar kelima yang ada di Indonesia, kamu gadis kampung? Harusnya kamu itu diri.

Nira hanya berdiri lalu menunduk. Dia sedih sekali mendapat sebuah penghinaan yang semacam itu. Nira memang sangat menyukai Jim walaupun dia baru mengenalnya. Dia pun merasa bahwa sanya Jim pula menyukainya.

Jim           : Mah, apa-apaan sih? Kok Nira itu disalahin? Jim tidak mau dijodoh-jodohkan seperti ini. Aku mau memilih pasangan hidupku sendiri, Mah!
B. Shinta  : Jim sayang, Mamah tahu kamu ini hanya ingin bermain-main saja dengan sang pembantu ini. Tapi tolong kamu sudahi permainan kamu itu. Dikarenakan cepat ataupun lambat kamu itu akan menikah sama Poppy.
Jim           : Aku nikah sama Poppy agar perusahaan kita ini bertambah maju dikarenakan akan bergabung sama perusahaan dari Tante Bena? Mama dari dahulu tidak pernah berubah. Satu lagi, aku tidak main-main sama Nira. Aku sangat serius ingin kenal dengan dia untuk lebih jauh serta lebih dekat.
Poppy      : Jim! Kita sudah dijodohin. Apa-apaan sih kamu ini nggak ngehargai aku sebagai calon istrimu?
Jim          : Dijodohin? Calon istri hah? Dalam mimpi. Yuk, Nir.

Jim pun menggandeng tangan Nira lalu mereka pergi untuk keluar rumah. Mereka lalu naik mobil Jim dan pergi tidak tau kemana. Sementara itu pun Bu Shinta langsung terduduk lemas bingung dan harus berbuat apa. Bu Bena pun menenangkan Poppy yang menangis.

4. Contoh Teks Drama Horor

Jangan Ketuk 3 Kali

Nina masih asik bersama smartphone nya padahal sudah jam setengah 12 lewat, hanya beberapa menit lagi sudah tengah malam. Saat ini Nina yang sedang membaca sebuah cerita horor yang ada di Webtoon.

Nina: ceritanya benar atau tidak ya, kalau terdapat yang sedang mengetuk kaca 3 kali tepat pada tengah malam dapat ketemu penghuni dari dalam dunia kaca.

Nina menatap sangat lekat-lekat kaca yang sedang tergantung yang ada di dinding kamarnya. Terdapat perasaan ragu dikarenakan takut tapi tak tahu kenapa ada rasa penasarannya yang sangat besar yang mengalahkan semuanya.

Sehingganya Nina berjalan ke arah kacanya, sempat beberapa detik dia memandangi dirinya yang terdapat di kaca yang akhirnya Nina itu nekat mengetuk kacanya.

Ketukan pertama tak ada perubahan, Nina lanjut saja mengetuk untuk ke dua kali pula tak ada perubahan tetap hanya ada wajah dirinya yang terdapat di kaca. Tepat pada ketukan ketiga pula tak ada perubahan.

Nina: boong aja nih cerita, udalah tidur lah aja gua .

Disaat Nina memperhatikan terdapat yang aneh dari kamarnya, seketika kamarnya itu menjadi suram serta seperti gudang. Banyak debu serta darah yang ada di mana-mana.

Nina menatap pada cermin serta melihat seseorang wanita yang menyerupai dirinya tapi dengan wajah yang penuh darah. Tersenyum kepada Nina.

Wanita Yang Ada Didalam Cermin: Terima kasih telah mau bertukar dunia bersama ku.

Sesudah itu wanita itu melangkah untuk menjauhi cermin lalu mulai tidur pada kasur Nina, sedangkan Nina tak bisa keluar dari cermin meskipun sudah didobrak dengan sekencang apapun.

Nina: Tolong! Keluarkan aku!

5. Contoh Teks Drama Komedi

Cinderlela Vs Emak Tiri

Dikisahkan hiduplah seorang Cinderlela bersama emak tiri dan juga kedua putrinya yakni Cindelulu serta Cindelola. Tak seperti kisah dari Cinderella yang sudah mendunia, kisah ini jelas sangat berbeda. Saat itu dikarenakan buru-buru Cinderlela yang memakai sepatu milik dari ibu tirinya lalu pergi ke pesta.

Pangeran: Kau begitu cantik, bolehkah aku mengetahui namamu?

Suara bel berbunyi yang menandakan pukul 12 malam sudah tiba, Cinderlela lalu berlari meninggalkan sang Pangeran secara terburu-buru, sehingganya sepatunya terjatuh.

Cinderlela: Adu sepatuku. Sudahlah akan tinggalkan saja (Cinderlelapun kembali berlari).

Pangeran serta semua ajudannya mendatangi semua rumah yang terdapat agar mencocokkan kaki disetiap wanita sama sepatu yang sudah ditinggal disaat malam pesta. Tibalah pangeran pada rumah emak.

Ajudan: siapapun perempuan yang ukuran kakinya itu pas dengan sepatu ini akan segara menikah bersama pangeran.

Emak: ( dalam hatinya “Kok saya kaya kenal dengan sepatu itu”).

Cinderlulu serta Cinderlola saling dorong mendorong agar mencoba sepatunya. Sedangkan Cinderlela yang dikurung didalam kamarnya. Sayangnya sepatu itu kekecilan bagi Cinderlulu serta kebesaran bagi Cinderlela.

Dengan kekuatan dari bulan serta bantuan dari para iblis yang akhirnya Cinderlela itu berhasil keluar dari kamarnya lalu mendobrak pintu.

Cinderlela: aku pasti sangat cocok dengan sepatu tersebut.

Tapi tentu saja Cinderlela tak cocok dengan sepatu itu dikarenakan kebesaran.

Emak: boleh saya yang mencobanya?

Pangeran: silakan.

Tentu saja sepatu tersebut muat pada kaki emak dikarenakan memang itu sepatunya. Keributan tak bisa terelakkan diantara emak serta Cinderlela, mereka itu saling menjambak satu dengan yang lain.

Tapi tentu sang Pangeran tetap saja menepati janjinya lalu menikah dengan emak. Tetapi berselang waktu seminggu Pangeranpun menikah lagi serta istri keduanya lalu memfitnah emak sampai diusir dari istana.

Sedangkan sangCinderlela hidup bahagia sederhana bersama keluarganya.

Selesai sudah pembahas kali ini semoga dapat membantu kalian semua dan terimakasih sudha berkunjung dan menyimak artikel ini sampai akhir .

Baca Juga Lainnya: